“Membaca dan Menulis bukan seruan saya, tetapi seruan Tuhan, maka ayo kita membaca dan menulis.”
Bahasa tidak pernah netral. Ia membawa cara berpikir, nilai, dan cara memandang dunia. Dalam konteks Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), pertanyaan tentang bagaimana mengajar tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan yang lebih mendasar: Indonesia seperti apa yang sedang kita perkenalkan kepada dunia?
BIPA: dari Refleksi ke Pedagogi merupakan kumpulan 30 catatan reflektif yang lahir dari pengalaman mengajar, membaca riset, dan berdialog dengan pemelajar lintas budaya. Buku ini tidak menawarkan metode instan, melainkan mengajak pembaca menata ulang cara melihat praktik pembelajaran BIPA.
Pada bagian pertama, pembaca diajak meninjau ulang lanskap pedagogi dan riset BIPA—dari euforia teknologi yang belum tentu pedagogis, ketimpangan perhatian pada keterampilan reseptif, hingga absennya studi longitudinal dan bukti akademik atas klaim diplomasi lunak. Bagian ini mempertanyakan arah keilmuan BIPA dan urgensi kebijakan berbasis data.
Bagian kedua membawa pembaca ke ruang kelas BIPA di Timor Leste—sebuah konteks yang memperlihatkan bahwa belajar bahasa tidak pernah netral. Di sana, bahasa Indonesia bukan sekadar mata pelajaran, tetapi ruang negosiasi identitas, sejarah, dan mobilitas sosial.
Bagian ketiga menjadi refleksi paling mendalam tentang pedagogi cerita rakyat di kelas BIPA. Buku ini mempertanyakan kebiasaan menyederhanakan tokoh menjadi hitam-putih, menutup cerita terlalu cepat, serta memaksa pesan moral tunggal. Melalui pembacaan ulang terhadap Malin Kundang, Sangkuriang, Timun Mas, Putri Hijau, Dewi Sri, dan cerita lainnya, penulis menunjukkan bahwa cerita rakyat seharusnya menjadi ruang dialog interkultural, bukan alat menggurui.
Dengan gaya bahasa yang reflektif namun tajam, buku ini relevan bagi pengajar, peneliti, mahasiswa pendidikan bahasa, dan pemerhati kebijakan kebahasaan. Lebih dari itu, buku ini adalah undangan untuk mengajar dengan lebih sadar—memberi ruang bagi pertanyaan, bukan sekadar kesimpulan.
Karena pada akhirnya, pembelajaran bahasa yang bermakna tidak lahir dari jawaban yang cepat, melainkan dari keberanian tinggal lebih lama bersama makna.
Penulis: Suci Sundusiah
Editor: Tim Jendela Hasanah
Desain Cover & Isi: Tim Jendela Hasanah
Halaman: 130 Hal ; 14,5 x 21 cm
Cetakan Pertama: Kesatu, Februari 2026
Warna: black/white
Pembatas Buku
Wrapping Buku
Kertas: Book Paper
Soft Cover