“Membaca dan Menulis bukan seruan saya, tetapi seruan Tuhan, maka ayo kita membaca dan menulis.”
Buku ini hadir dari sebuah kegelisahan intelektual sekaligus refleksi sosial terhadap model kepemimpinan di Indonesia, khususnya di tingkat daerah, yang semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Di satu sisi, masyarakat menuntut pemimpin yang modern, cepat, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebijakan global. Namun di sisi lain, masyarakat juga merindukan sosok pemimpin yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya, moral, dan spiritual yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks inilah, kepemimpinan spiritual menjadi semakin relevan untuk dikaji. Kepemimpinan tidak lagi semata-mata dipahami sebagai kemampuan mengelola kekuasaan atau mengambil keputusan administratif, melainkan juga sebagai kemampuan untuk menyentuh hati, membangun kesadaran, serta menghadirkan nilai kemanusiaan dalam setiap tindakan.
Dedi Mulyadi dalam buku ini diposisikan sebagai salah satu figur yang menarik untuk dikaji dalam perspektif tersebut. Gaya kepemimpinannya yang lekat dengan budaya lokal, komunikasi yang membumi, serta kedekatannya dengan masyarakat menjadi fenomena sosial yang layak dianalisis lebih dalam, bukan untuk mengkultuskan, melainkan untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya dan spiritualitas dapat bekerja dalam praktik kepemimpinan kontemporer.
Buku ini tidak dimaksudkan sebagai bentuk glorifikasi terhadap individu tertentu, melainkan sebagai upaya akademik dan reflektif untuk membaca ulang hubungan antara budaya, spiritualitas, dan kepemimpinan dalam konteks masyarakat Indonesia. Dengan demikian, pembahasan dalam buku ini berusaha bersikap objektif, analitis, dan tetap membuka ruang kritik yang sehat.
Kertas: Book Paper
Ukuran: A5 (14,5 x 21) cm
Halaman: 448 halaman
Soft Cover
Penulis:
Nandang Kosasih
Editor:
Tim Jendela Hasanah
Warna: black/white
Pembatas Buku
Wrapping Buku