“Membaca dan Menulis bukan seruan saya, tetapi seruan Tuhan, maka ayo kita membaca dan menulis.”
Buku ini lahir dari kegelisahan, dari luka yang tak kunjung sembuh, dari pengkhianatan yang terus berulang, dari air mata rakyat yang tak dianggap sebagai bagian dari sejarah. Setiap bait dalam kumpulan puisi ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan kenyataan yang kita alami bersama—sebuah kesaksian terhadap kebusukan yang ditutupi, terhadap ketidakadilan yang dipelihara oleh mereka yang semestinya menjadi penjaga keadilan.
Puisi-puisi dalam buku ini berbicara lantang, menjadi suara bagi mereka yang dipaksa diam, menjadi nyala bagi mereka yang hampir padam. Ia mengutuk tangan-tangan penguasa yang menjual negeri, yang menggadaikan masa depan rakyatnya sendiri, yang melipat hukum seperti kain usang agar pas dengan kepentingan mereka.
Negeri ini bukan milik segelintir elit, bukan untuk mereka yang memperkaya diri dengan merampas tanah, laut, dan keringat rakyat. Negeri ini adalah milik mereka yang mencintainya, yang menanam harapan di tanahnya, yang menjaganya dengan sepenuh jiwa. Namun, bagaimana harapan bisa tumbuh jika tanah ini terus diinjak, jika keadilan terus dicabut dari akarnya? Bagaimana anak-anak negeri bisa bermimpi, jika masa depan mereka telah lebih dulu dijual kepada tuan-tuan modal yang rakus?
Kertas: Book Paper
Ukuran: A5 (14.5 x 21) cm
Halaman: 82 halaman
Soft Cover
Penulis:
Fahrus Zaman Fadhly
Warna: black/white
Pembatas Buku
Wrapping Buku