“Membaca dan Menulis bukan seruan saya, tetapi seruan Tuhan, maka ayo kita membaca dan menulis.”
Buku ini berangkat dari satu keresahan sederhana: budaya dalam kelas BIPA terlalu sering hadir sebagai pajangan, bukan sebagai jalan menuju kompetensi antarbudaya. Dua puluh dua bab kemudian, keresahan itu berkembang menjadi Pedagogi Naratif Antarbudaya. Kerangka ini dilengkapi instrumen analisis, bukti empiris, perangkat praktis, serta pengakuan terbuka terhadap batas-batas yang masih perlu diuji.
Buku ini dengan keyakinan bahwa folklor Indonesia menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dimanfaatkan dalam kelas BIPA. Sangkuriang menghadirkan ambiguitas moral. Timun Mas membuka ruang bagi savoir être. Bawang Merah Bawang Putih menunjukkan pentingnya perbedaan versi. Dewi Sri menawarkan kepadatan simbolis yang tinggi. Malin Kundang membawa perspektif Minangkabau. Putri Hijau menunjukkan bahwa satu legenda dapat berbicara melalui banyak suara.
Jika buku ini mendorong seorang pengajar membaca folklor Indonesia dengan cara yang lebih sistematis, atau mendorong seorang peneliti menguji ML-PCF pada folklor dari daerahnya sendiri, maka salah satu tujuan buku ini telah tercapai.
Selebihnya, perjalanan PNA perlu dilanjutkan melalui dialog. Dialog itu dapat berlangsung bersama pembaca, sejawat akademisi, pengajar, dan pemelajar BIPA. Dari sanalah bab berikutnya dari gagasan ini akan tumbuh.
Kertas: Book Paper
260 Hal ;
14,5 x 21 cm
Soft Cover
Penulis: Suci Sundusiah
Editor: Tim Jendela Hasanah
Warna: black/white
Pembatas Buku
Wrapping Buku